Santri: Integrasi antara Olah Pikir, Olah Dzikir, dan Olahraga

Santri: Integrasi antara Olah Pikir, Olah Dzikir, dan Olahraga

 

Pendidikan pondok pesantren merupakan sistem pendidikan tertua di Indonesia, yang mempunyai ciri khas dan telah menghasilkan ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh nasional.

Pondok pesantren biasanya diartikan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam. Dalam bukunya yang berjudul “Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa”, Muhammad Yacub menyebutkan pesantren berarti lembaga pendidikan Islam yang pada umumnya dengan cara non-klasikal, pengajarannya seorang yang mempunyai ilmu agama Islam melalui kitab-kitab agama Islam klasik (kitab kuning) dengan tulisan Arab dalam bahasa Melayu kuno atau dalam Bahasa Arab. Kitab-kitab itu biasanya hasil karya ulama-ulama Islam(Arab) dalam zaman pertengahan.

Sedangkan salah satu trimurti Gontor KH. Imam Zarkasyi mendefinisikan pondok pesantren sebagai “lembaga pendidikan agama Islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana Kyai sebagai figure sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan Kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya." 

Dari beberapa definisi tentang pesantren disitu ada peran seorang tholibul ilmi atau lebih kita kenal sebagai seorang “santri”. Di pesantren inilah santri di didik melalui miniature kehidupan. Dari mulai mau tidur sampai tidur lagi, aktivitas santri dilakukan di dalam pesantren. Sebenarnya inilah yang dinamakan Full Day School, satu minggu penuh 24 jam santri di didik di dalam pesantren bukan jam 4 sore sudah kembali kerumah masing-masing. 

Di dalam pesantren santri digembleng untuk menjadi kader pemimpin umat yang berjiwa Islami dan mampu menghadapi setiap problematika perkembangan zaman. Sebetulnya jika kita lihat ada tiga unsur yang dilakukan oleh santri didalam pesantren. Ketiganya adalah olah pikir, olah dzikir dan olahraga. Integrasi antara ketiga olah inilah yang merupakan salah satu upaya untuk mencetak kader-kader pemimpin masa depan.

Unsur yang pertama adalah olah pikir. Kegiatan ini tergambarkan dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Para santri wajib mengikuti kegiatan ini demi menambah dan mengasah pengetahuan yang sudah mereka miliki semua. Pengajaran di dalam kelas merupakan salah satu kegiatan wajib yang tidak dapat ditawar kecuali karena sakit atau berbagai halangan lainnya. Materi yang diajarkan di Pesantren tidak hanya ilmu agama (revealed konowledge), tetapi juga diajarkan ilmu kawniyah (acquired knowledge). Jadi di Pesantren telah diterapkan integrasi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, tidak ada dualism keilmuan dalam dunia pendidikan pesantren.

Unsur yang selanjutnya adalah olah dzikir yang tercerminkan dalam rutinitas shalat lima waktu setiap hari. Santri diwajibkan sholat jamaah lima waktu di masjid. Olah Dzikir merupakan unsur yang teramat penting untuk mengasah jiwa spiritual para santri. Agar mereka mengerti untuk apa dan bagaimana seharusnya mereka hidup di dunia ini.

Unsur yang terakhir adalah Olahraga sebagai upaya untuk menjaga kesehatan dan kebugaran para santri. Pepatah Arab mengatakan ''Al-aqlu As-salim fil jismi as-salim" terjemah bebasnya adalah “aqal yang sehat terdapat dalam badan yang sehat”. Bagaimana mungkin para santri akan rajin belajar serta bias menikmati mendekatkan diri kepada Alloh SWT, namun tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup, besar kemungkinan bagi mereka akan terjangkit penyakit. Maka dari itu di pesantren santri bias memilih olahraga yang mereka minati guna menunjang aktifitas piker maupun dzikir.

Ketiga unsur tersebut tidak boleh dihilangkan dari rutinitas kehidupan sebuah pesantren demi tercapainya cita-cita pesantren itu sendiri sebagai pencetak kader pemimpin yang berbadan sehat, berjiwa Islami, dan berpengetahuan luas. Wallohu A'lam Bisshowab...

Oleh: Moh. Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I. (Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah Prupuk Utara-Margasari-Tegal-Jawa Tengah)