Waktu Adalah Prestasi
- Kalam
- 29 Sep 2022
- 1031

Waktu adalah momentum untuk berprestasi. Demi masa, demikian Allah bersumpah. Tema utama surat ini adalah tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktifitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Allah menegaskan sesungguhnya manusia akan merugi kalau tidak memerhatikan waktu, kecuali 4 golongan: 1. Orang yang beriman, 2. Orang yang beramal saleh, 3. Orang yang menasehati dalam kebenaran. Dan 4. Orang yang menasehati dalam kesabaran. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Ashr ayat 1-3 yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.”
Imam Syafi’i menilai surat ini sebagai salah satu surat yang paling sempurna petunjuknya. Beliau berkata, “Seandainya manusia memahami kandungan surat ini, niscaya (petunjuk-petunjuknya) mencukupi mereka "Surat ini merupakan inti sari bahwa hidup adalah kumpulan waktu. Barang siapa yang tidak bias memanfaatkan waktu, dialah orang yang dijamin bakal rugi, persis orang yang sudah mati. Karena hidupnya seperti mayat yang beku, hidup tak sopan mati bikin bau. Wujuduhu Ka-adamihi, Keberadaannya seperti tak ada, karena tak ada gunanya. Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat-NYA seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari dari Abu Musa Al-Asyari).
Orang hidup yang sudah mati inilah yang kini banyak berkeliaran, mendominasi, mempengaruhi dan menebar petaka. Kadang kita takut karena mereka berada disekita rkita, kadang menjelma menjadi diri kita.
Tidak ada orang yang ingin hidup hanya sekedar menjadi pemain figuran, penonton urakan, atau artis murahan tanpa peran jelas karena belum mempunyai prinsip dan visi misi yang jelas. Berbagai momentum lewat, kesuksesan minggat, bahagia pun mencelat. Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat, dimana banyak orang yang tertipu oleh keduanya, yaitu: nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas).
Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif, ia akan berlalu begitu saja. Ia akan hilang dan ketika itu jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Sayyidina Ali Radiyallohu Anhu pernah berkata: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok.”
Menurut Nabi, rata-rata umur umatnya sekitar 60 tahun. Waktu kita sama dalam sehari 24 jam. Cara kita menggunakan waktu kitalah yang membuat kita berbeda. Kalau dihitung, masing-masing waktu kita sama: 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari, 7 hari dalam sepekan dan seterusnya. Namun kata Imam Al-Ghazali, kalau orang umurnya rata-rata 60 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka dalam 60 tahun ia telah tidur selama 20 tahun. Innaa Lillaahi Wa Innaa ilaihi rooji’uun. Dan itulah kebanyakan manusia, Apakah termasuk kita? Allohua’lam bishowab.
Waktu adalah momentum untuk berprestasi. Sebagaimana Umar bin abdul Aziz menyikapi. Saat beliau diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Dengan niat tulus dan suci, dengan jiwa yang kokoh dan bersih, dengan tekad yang membara, ia pikul kekhalifahan yang ia rindukan itu. Beliau mengatakan, “Aku akan duduk di sebuah tempat yang tidak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan.”
Hal ini sebagaimana kebesaran kakeknya Umar bin Khathab ra. Tidaklah sebuah tempat dilalui oleh Umar bin Khathab kecuali syetan pasti menyingkir darinya. Ini karena kekuatan dahsyat, Inner power yang dimilikinya mampu menggentarkan musuh-musuh Allah. Keimanan, ketulusan, kemauan untuk belajar dan berubah secara revolusioner.
Orang barat mengatakan bahwa time is money, waktu adalah uang. Substansi semua ungkapan diatas menunjukkan bahwa betapa berharganya waktu. Lepas dari cara pandang terhadap berharganya waktu. Pada masa kita di pondok kita hafal mahfozot yang artinya,
“Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak bisa menundukkannya, maka kamu akan ditebasnya.”
Dr. Muhammad Iqbal seorang ilmuwan dan filosof besar dari India sangat menekankan waktu dalam pemikiran filsafatnya. Hingga dalam pemikirannya sering disebut orang dengan istilah filsafat dinamisme. Filsafat dinamisme Iqbal menekankan pada pentingnya waktu.
Waktu menurut Iqbal akan terus berjalan dan tak akan pernah berhenti untuk menunggu manusia. Untuk itu manusia harus dinamis mengisi waktu dengan segala kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Tak ada tempat bagi Iqbal orang-orang yang hanya menunggu waktu apalagi berhenti tanpa ada aktivitas. Mereka akan menjadi korban waktu. Mereka akan digilas oleh putaran roda waktu. Dia akan menjadi orang-orang yang merugi. Manusia dalam menyikapi waktu menurut Iqbal harus dinamis, bergerak menggapai sukses tanpa henti dan menunggu sejenak sekalipun. Iqbal tidak pernah menoleransi kemandegan. Kemandegan inilah yang akan membunuh manusia. Berhenti tak ada tempat dijalan ini. Sikap lamban berarti mati. Siapa yang bergerak, dialah yang akan maju kemuka. Siapa yang menunggu, sejenak sekalipun, pasti akan tergilas, tulis Iqbal.
Mengambil inti sari dari telaah Imam Syafi’i atas surat Al-Ashr ditambah dengan pengalaman beliau mengoptimalkan waktu, kita lejitkan potensi biasa dengan prestasi luar biasa. Kuncinya adalah memberdayakan waktu, memberdayakan diri, memberdayakan sarana, menemukan momentum, melahirkan ide segar, kerja dengan benar untuk menghasilkan karya besar. Wallohu A’lam Bisshowab...
Oleh: Moh. Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I. (Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah Prupuk Utara-Margasari-Tegal-Jawa Tengah)
Arsip Berita
Pengumuman
- 27 Jul 2020
- 28 Jul 2021
- 31 Jul 2022