Amaliyah Tadris : Metode Belajar Kritik Santri
- Kalam
- 14 Jan 2023
- 1152

Alhamdulillah kegiatan Amaliyah Tadris santri akhir Tarbiyah Al-Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) Angkatan Ke-25 Pondok Pesantren Darul Mujahadah telah selesai pada hari Rabu, 11 Januari 2023. Calon alumni ke-25 DIAMOND Generation bisa bernafas lega setelah sukses melewati kegiatan Amaliyah Tadris ini.
Amaliyah Tadris sendiri biasa dilaksanakan di Pesantren yang menganut sistem TMI atau Bahasa mudahnya pesantren yang menggunakan kurikulum seperti Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Agenda wajib yang dilaksanakan setiap tahunnya untuk santri akhir TMI. Dalam kegiatan yang menjadi salah satu bagian dari kurikulum pesantren Darul Mujahadah ini, santri tidak hanya belajar mengajar dan belajar menjadi guru, melainkan juga belajar memberi dan menerima kritik yang baik.

Pada tulisan sebelumnya sudah kami jelaskan terkait proses Amaliyah Tadris dari pembekalan sampai proses naqd atau kritik. Proses naqd inilah yang akan sedikit kami bahas pada tulisan ini.
Para santri menyampaikan kritik (naqd) terhadap penampilan mudarris atau pelaksana praktek mengajar berdasarkan catatan-catatan yang telah mereka buat. Mudarris yang mengajar akan diberikan kritik oleh teman lainnya. Ia berupaya membantah kritik-kritik itu dengan argumen-argumennya sendiri.

Proses naqd dalam amaliyah al-tadris nampaknya dirasa tidak hanya penting dalam ruang lingkup pendidikan dan pengajaran, melainkan juga penting untuk membentuk kepribadian para santri dan santriwati yang sedang dan akan menjalani kehidupannya di tengah suasana kemasyarakatan kita saat ini.
Melalui arahan para musyrif, para santri pengkritik harus menunjukkan bukti kuat bahwa rekannya yang melaksanakan praktek mengajar telah melakukan kesalahan. Tentu saja penilaian itu didasarkan pada kaidah-kaidah kepengajaran yang baku. Tak hanya itu, mereka juga harus melengkapi kritik mereka dengan saksi-saksi, apakah teman-teman yang lain juga menyaksikan atau mengetahui kesalahan yang telah dibuat itu.
Santri yang menjadi mudarris pun diberikan kesempatan untuk membela dirinya. Ia berhak untuk menyanggah kritik-kritik tersebut berdasarkan argumen-argumen yang jelas dan bertanggung jawab. Jika tak mampu membantah kritik-kritik, ia harus menerimanya dengan lapang dada dan menjadikan kritik-kritik itu sebagai perbaikan bagi kualitas mengajarnya.
Dari proses naqd inilah santri dididik untuk belajar mengkritik diri sendiri, memberi kritik dan menerima kritik dari orang lain.
Mengkritik diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah dilaksanakan. Namun dalam amaliyah tadris ini, seorang mudarris diberikan waktu pertama kali untuk mengkritik dirinya sendiri. Semua kesalahan dan kekurangan yang dilakukan mudarris dikeluarkan semua oleh dirinya sendiri.

Santri juga dilatih untuk menerima kritik. Seringkali kita tidak terima ketika mendapat kritikan dari orang lain. Dari Amaliyah tadris ini santri belajar menerima kritik yang membangun dari orang lain dan memperbaikinya di kemudian hari.
Mengkritik orang lain merupakan hal paling mudah yang biasa dilakukan oleh banyak orang. Setiap individu dan kelompok menyadari dirinya adalah manusia yang bebas dan berhak melancarkan kritik. Masing-masing merasa punya posisi dalam struktur masyarakat. Karena masing-masing merasa punya posisi mencuatlah politik identitas, demi menegaskan posisi individu dan kelompok itu.
Politik identitas kemudian mengubah kritik menjadi nyinyir, kritik membabi-buta, penuh intrik, diliputi rasa iri dan dengki. Kritik yang sejatinya produktif dan membangun akhirnya hanyalah alat untuk menyalahkan, menjatuhkan dan menyingkirkan orang lain. Hadirnya media baru berupa media sosial tentu saja memperparah suasana kritik-mengkritik masyarakat kita hingga hari ini.
Jelas berbeda pendidikan yang diajarkan lewat amaliyah tadris ini, santri dilatih untuk mengkritik teman-temanya bukan atas dasar like dan dislike semata. Tapi harus disertai dengan dalil-dali atau bukti nyata yang dilakukan oleh temannya tersebut.
Prosesi naqd dengan demikian telah memainkan peran yang sangat penting dalam kepribadian santri untuk menjalani kehidupan dimana sosial media memberikan wadah untuk bebas berkomentar sesuka jari. Di pondok pesantren mereka tidak hanya belajar metode-metode dan teknik-teknik mengajar, tapi juga belajar berani menyampaikan kritik dan bersedia untuk dikiritik. (Oleh : Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah, Al-Ustad Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fill.I)
Arsip Berita
Pengumuman
- 31 Jul 2022
- 20 Jan 2021
- 01 Mar 2022