Pesantren Saling Menguatkan, Bukan Saling Menjatuhkan
- Kalam
- 11 Nov 2025
- 835

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S,Fil,I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah
Suara deru motor kembali terdengar di jalan-jalan pedesaan Kabupaten Tegal. Hari Sabtu, 08 November 2025, menjadi momen istimewa bagi para kiai dan pengasuh pesantren yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Tegal. Mereka melaksanakan kegiatan Touring Sambang Pesantren, sebuah agenda silaturahmi keliling yang penuh makna dan kehangatan.
Ada beberapa destinasi yang dituju pada touring sambang pesantren FKPP Kabupaten Tegal tahun ini, salah satunya adalah Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, yang terletak di Desa Cerih, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Begitu rombongan tiba, suasana hangat langsung terasa. KH. M. Yusuf pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Jannah menyambut dengan penuh keakraban, namun tetap menjaga adab dan ta’dzhim khas dunia pesantren.
Dalam suasana yang teduh dan bersahaja itu, pertemuan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang berbagi inspirasi dan nasihat penuh hikmah. Diawali oleh kami (penulis) sendiri selaku yang membuka dan membawa acara ramah tamah. Dilanjutkan sambutan-sambutan, sambutan perwakilan FKPP Kabupaten Tegal oleh KH. Abdul Muqsit Zaeni, S.H dan dilanjutkan sambutan oleh tuan rumah pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Jannah Cerih Bumijawa yaitu KH. M.Yusuf.
Beliau KH. M. Yusuf menyampaikan dalam sambutannya, “Biasanya tukang bakso punya musuh sama tukang baksonya. Tukang martabak yaa mushunya tukang martabak. Toko gerabah saingannya yaa toko gerabah. Tukang kayu pasti saingannya sama-sama tukang kayu. Tapi semoga Para Kyai tidak saingan njih…” Ucapan beliau disambut tawa riuh para hadirin, namun di balik canda itu terselip pesan mendalam yang menggetarkan hati.
Kalimat ringan itu sesungguhnya merupakan sindiran halus dan pengingat tajam bagi semua yang hadir. Dalam dunia perdagangan, persaingan adalah hal yang wajar. Namun, bagi para Kyai dan pengasuh pesantren, semangat persaudaraan dan kerja sama jauh lebih utama daripada persaingan. Dakwah dan pendidikan bukanlah ajang untuk saling unggul, melainkan ladang amal bersama untuk menebar cahaya ilmu dan memperkuat iman umat.
Pesan tersebut juga menjadi refleksi tentang pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah dinamika kehidupan pesantren. Setiap pesantren memiliki karakter, tradisi, dan kekhasannya masing-masing. Namun, semua memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa pejuang. Maka sudah sepatutnya, para penggerak pendidikan Islam saling mendukung, saling mendoakan, dan saling menguatkan, bukan justru terjebak dalam rasa iri atau kompetisi yang tidak perlu.
Menanam Semangat Kebersamaan
Kiai Yusuf mengingatkan bahwa setiap pesantren memiliki peran dan karakter yang berbeda. Ada yang fokus pada tahfidz, ada yang menonjol dalam dakwah, ada yang kuat dalam pendidikan formal, dan ada yang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Semua memiliki jalan perjuangan masing-masing, tetapi tujuan akhirnya sama yaitu menegakkan nilai Islam, membentuk akhlak, dan menjaga warisan ulama.
“Tidak ada alasan bagi pesantren untuk saling bersaing secara tidak sehat,” ujar beliau. “Karena setiap pesantren adalah bagian dari tubuh yang sama. Jika satu bagian sakit, maka seluruhnya akan ikut terasa.”
Touring Sambang Pesantren FKPP ini menjadi bukti nyata bagaimana semangat kebersamaan itu dijalankan. Para kiai, gus, asatidz, dan santri berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lain, bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk memperkuat tali silaturahmi dan saling berbagi semangat perjuangan.
Kekuatan Dalam Silaturahmi
Dalam suasana hangat, para peserta touring tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga berbagi pengalaman, berdiskusi ringan tentang pendidikan santri, kemandirian pesantren, serta tantangan dakwah di era digital.
Dari kegiatan ini tumbuh kesadaran bahwa silaturahmi antarpesantren bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk nyata dari sinergi dakwah. Ketika pesantren bersatu, maka kekuatan moral dan spiritual umat akan semakin kokoh.
KH. M. Yusuf menegaskan bahwa perbedaan arah, metode, atau pendekatan tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh. Justru perbedaan itulah yang membuat pesantren saling melengkapi, ibarat taman yang indah karena beragam bunga yang tumbuh di dalamnya.
Pesantren Sebagai Pilar Peradaban
Dalam konteks yang lebih luas, pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat peradaban. Dari pesantren lahir pemimpin umat, pendidik bangsa, dan pejuang moral yang membawa cahaya ke tengah masyarakat.
Namun, semua itu hanya bisa berjalan bila pesantren menjaga ukhuwah dan sinergi. Jika antarpesantren saling menjatuhkan, maka yang runtuh bukan hanya satu lembaga, tapi seluruh wibawa dunia pendidikan Islam.
FKPP Kabupaten Tegal Sebagai Binaul Jusur
Di Kabupaten Tegal, berdiri banyak pondok pesantren dengan warna dan karakter yang beragam. Setiap pesantren memiliki sistem pendidikan, tradisi keilmuan, dan pola pembinaan santri yang khas. Ada pesantren yang menerapkan sistem kurikulum ala Gontor dengan pendekatan modern dan disiplin tinggi, ada pula yang menempuh jalur klasik seperti Ploso dan Lirboyo dengan kekuatan pada pendalaman kitab kuning dan tradisi keulamaan yang mendalam. Keberagaman ini menjadi mozaik indah yang memperkaya khazanah pendidikan Islam di Tegal. Masing-masing pesantren berperan sebagai mata rantai dalam perjuangan mencetak generasi berilmu dan berakhlak, sesuai dengan corak dan keunggulan masing-masing.
Dari perbedaan inilah seharusnya lahir semangat saling melengkapi, saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Tegal hadir sebagai jembatan penghubung “binaul jusur” antara berbagai pesantren dengan latar belakang yang berbeda. Melalui FKPP, para Kyai dan pengasuh dapat mempererat silaturahmi, bertukar pengalaman, serta menyatukan visi dalam dakwah dan pendidikan. Inilah wujud nyata ukhuwah yang dibangun di atas nilai keikhlasan dan kebersamaan, agar pesantren-pesantren di Tegal tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan tumbuh bersama dalam harmoni, saling menguatkan untuk menebar manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa.
Dan dari Tegal, semangat itu terus menyala menjadi cahaya yang menerangi dunia pendidikan Islam di bumi Nusantara. Dari rahim pesantren-pesantren yang tersebar di wilayah ini, lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa perjuangan. Nilai keikhlasan, kebersamaan, dan pengabdian yang tumbuh di pesantren Tegal menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus membangun pendidikan berbasis nilai. Sejalan dengan tagline Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, “Tegal Luwih Apik,” semangat ini mencerminkan tekad bersama untuk menjadikan Tegal lebih baik, lebih berkah, dan lebih bermartabat, bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun peradaban yang berakar pada ilmu dan akhlak.
Wallohu A’lam Bisshowab…