Berperang Melawan Diri Sendiri! Refleksi Hari Pahlawan
- Kalam
- 10 Nov 2025
- 499

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang perjuangan para pendahulu yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Mereka berjuang dengan darah dan air mata, melawan penjajahan yang merampas kebebasan. Di balik heroisme itu, ada pesan abadi yang seharusnya terus hidup dalam diri setiap generasi penerus bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti mengangkat senjata, melainkan berjuang menaklukkan diri sendiri.
Musuh terbesar manusia bukanlah pihak luar, melainkan hawa nafsu yang bersarang di dalam dirinya. Rasulullah SAW pernah bersabda sepulang dari medan perang, “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Para sahabat pun bertanya, “Apakah jihad besar itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.”
Inilah perang sejati, perang tanpa henti yang tidak memakan korban jiwa, tetapi menuntut pengorbanan batin.
Menjadi pahlawan hari ini berarti berani menaklukkan ego, menundukkan amarah, mengendalikan ambisi, dan melawan rasa malas yang menggerogoti semangat. Di era digital, godaan datang bukan dari penjajah bersenjata, melainkan dari layar-layar yang meninabobokan kesadaran, dari kenyamanan yang menumpulkan idealisme, dan dari keinginan instan yang membunuh kesabaran.
Pahlawan masa kini adalah mereka yang jujur di tengah budaya kepalsuan, yang istiqamah menjaga nilai di tengah godaan pragmatisme. Ia bisa jadi seorang guru yang sabar mendidik generasi, santri yang tekun menuntut ilmu, petani yang ikhlas bekerja sejak fajar, atau pemuda yang menolak menyerah pada kemalasan dan hedonisme. Setiap orang punya medan juangnya sendiri dan semua perjuangan itu bernilai mulia jika diniatkan untuk kebaikan dan kemajuan umat.
Refleksi Hari Pahlawan hendaknya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi pahlawan bagi diri dan lingkungan kita? Sudahkah kita berjuang melawan kebiasaan buruk yang menghambat kemajuan? Jangan-jangan musuh yang kita lawan bukanlah penjajah di luar sana, melainkan kemalasan, keputusasaan, dan egoisme yang diam-diam menjajah hati kita.
Mari jadikan semangat 10 November bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi energi moral untuk memperbaiki diri dan negeri. Sebab bangsa yang besar bukan hanya karena memiliki pahlawan di masa lalu, tetapi karena terus melahirkan pahlawan-pahlawan baru yang berani berperang melawan dirinya sendiri, demi menegakkan kebenaran, kejujuran, dan kemajuan.
Wallahu A’lam Bisshowab…
Arsip Berita
Pengumuman
- 14 Des 2021
- 31 Jul 2022
- 14 Des 2021