Kenikmatan Sejati Hadir Setelah Kepayahan

Kenikmatan Sejati Hadir Setelah Kepayahan

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd.

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah

 وَمَا اللَّذَّةُ إِلَّا بَعْدَ التَّعَبِ

“Tidak ada kenikmatan kecuali setelah Kepayahan”

            Kalimat pendek dalam Bahasa Arab  ini sering kita dengar ketika pelajaran mahfudzot. Terdapat makna yang dalam dan universal. Dari kalimat mahfudzot ini kita belajar bahwa hukum kehidupan tidak pernah berubah. Tidak ada hasil tanpa usaha, tidak ada kebahagiaan tanpa perjuangan dan takkan ada kenikmatan sejati tanpa kepayahan yang mendahuluinya.

            Dalam kehidupan kita sering kali ingin menikmati hasil tanpa mau melewati proses. Kita menginginkan keberhasilan yang instan, pencapaian tanpa pengorbanan dan kebahagiaan tanpa kesulitan.

Allah SWT berfirman:

“Dan bahwa manusia tidka akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

            Mari kita perhatikan para tokoh yang kita kagumi. Para ulama, tokoh, atau bahkan orang-orang sederhana yang berhasil membangun kehidupan dari nol. Tak satu pun dari mereka sampai di puncak tanpa melewati lembah kepayahan. Imam Asy-Syafi’I misalnya, seorang ulama yang sangat familiar karena ilmunya. Tidak mudah bagi beliau untuk mendapatkan ilmunya hingga kita nikmati sekarang ini. Beliau harus menempuh perjalanan Panjang dari Yaman ke Madinah untuk menimba ilmu. Sejak kecil perjuangan beliau dimulai dengan menghafal Al-Qur’an dan hadits. Kemudian beliau menulis dan berdiskusi siang malam. Perjuangan ini beliau melewatinya dengan penuh kepayahan. Dari kepayahan inilah lahir kenikmatan ilmu dan kemuliaan nama yang abadi hingga kini.

            Begitu juga dengan para santri yang sedang berjuang di Pondok Pesantren. Para santri takkan benar-benar merasakan nikmatnya ilmu sebelum melewati malam-malam Panjang dengan mata yang berat, menahan kantuk saat kajian, menahan rindu berkumpul dengan keluarga dan tekun murojaah pelajaran berulang kali meski lelah. Tetapi di balik semua iut, ada kebahagiaan batin yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kebahagiaan ketika ilmu mulai menancap dalam hati dan Ketika para santri tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak.

            Kepayahan adalah ujian keikhlasan. Ia menapis mana yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya ingin hasil cepat Sebab kenikmatan sejati bukanlah yang datang tanpa proses, melainkan yang diperjuangkan dengan keringat dan doa.

            Nikmatnya makan terasa karena sebelumnya kita lapar. Nikmatnya istirahat terasa karena sebelumnya kita lelah dalam bekerja. Begitu pula nikmatnya keberhasilan terasa karena sebelumnya kita berjuang.

Kata-kata “Tidak ada kenikmatan kecuali setelah Kepayahan”, bukan hanya ungkapan bijak, tetapi juga pengingat untuk terus berjuang dengan sabar. Langkah kita terasa diteguhkan kala rasa letih datang, ketika semangat mulai surut, dan ketika hasil belum tampak. Sebab kita tahu bahwasanya lelah hari ini akan berganti nikmat yang lebih indah esok hari.

Maka dari itu, jika hari ini kita merasa susah payah dalam mengejar sebuh tujuan, jangan menyerah! Lanjutkan perjalanan ini, kita sudah start untuk mengejarnya. Karena setiap Langkah beratmu sedang menyiapkan kenikmatan yang lebih tinggi nilainya. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bersabar dalam kepayahan. Karena memang, tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan.”