Daya Tahan Seorang Pemimpin Menurut Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
- Kalam
- 05 Nov 2025
- 626

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah
Dalam pandangan Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., daya tahan merupakan salah satu kekuatan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk memiliki semangat dan motivasi tinggi dalam menggerakkan orang lain, tetapi juga harus mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, tekanan, dan kesulitan hidup yang datang silih berganti. Dunia kepemimpinan tidak selalu berjalan mulus, kadang penuh gelombang, ujian, dan cobaan yang menguji kesabaran serta keikhlasan hati.
Kiai Syukri dalam bukunya yang berjudul Bekal Untuk Pemimpin, menegaskan bahwa daya tahan bukan sekadar kemampuan bertahan secara pasif, melainkan seni menghadapi tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati. Dalam istilah beliau, “bertahan yang baik adalah dengan menyerang.” Pemimpin tidak boleh hanya diam ketika menghadapi masalah, tetapi harus berani mencari solusi dan mengambil tindakan nyata. Tantangan harus dihadapi, bukan dihindari. Sebab, hanya dengan menghadapi kesulitan, seseorang akan menemukan kekuatannya yang sesungguhnya.
Beliau juga mengutip semangat pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Sahal, yang selalu berkata penuh tekad, “Eee... koyo ngono to? Ayo, jajal awak, tak hadepane, mendaho mati, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Ungkapan ini menggambarkan sikap pantang menyerah, keberanian untuk menghadapi cobaan, dan ketegasan dalam menaklukkan rintangan hidup. Bagi Kiai Syukri, inilah mental pejuang sejati yang wajib dimiliki oleh setiap pemimpin.
Sebaliknya, pemimpin yang mudah menyerah, suka mengeluh, atau gemar menyalahkan orang lain disebut beliau sebagai pemimpin cengeng. Pemimpin seperti ini tidak hanya melemahkan dirinya sendiri, tetapi juga meruntuhkan semangat orang-orang yang dipimpinnya. Ketika pemimpin kehilangan keteguhan, maka etos kerja dan militansi para pengikutnya pun akan ikut merosot. Bahkan, menurut beliau, sikap cengeng dapat menghancurkan proses kaderisasi yang telah dibangun dengan susah payah.
Kiai Syukri juga menekankan bahwa kekuatan daya tahan seorang pemimpin harus bertumpu pada keteguhan spiritual. Manusia memiliki batas kemampuan, sementara beban kepemimpinan sering kali melebihi kapasitas dirinya. Karena itu, seorang pemimpin harus selalu menyandarkan kekuatannya kepada Allah. Dalam doanya, Kiai Syukri sering mengajarkan, “Ya Allah, berikanlah aku cobaan, tapi sertakan pula kekuatan untuk menghadapinya.” Doa ini mencerminkan kesadaran bahwa ujian adalah bagian dari proses pembentukan jiwa, dan hanya dengan pertolongan Allah seseorang mampu melewatinya dengan selamat.
Daya tahan, dalam pandangan Kiai Syukri, bukan hanya soal kekuatan fisik atau kecerdasan akal, tetapi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan. Pemimpin yang memiliki daya tahan tinggi tidak akan mudah goyah oleh kritik, fitnah, atau kegagalan. Ia justru semakin kuat setiap kali diuji. Seperti baja yang ditempa oleh api, ketahanan sejati terbentuk melalui kesulitan yang dihadapi dengan keyakinan dan keberanian.
Akhirnya, Kiai Syukri mengingatkan bahwa daya tahan adalah salahsatu ruh dari kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati akan tetap berdiri tegak di tengah badai, tidak karena ia lebih kuat dari yang lain, tetapi karena ia memiliki keimanan yang kokoh dan kepercayaan penuh kepada Allah. Di sanalah letak kemuliaan seorang pemimpin, bukan pada jabatan atau kekuasaan, tetapi pada kemampuannya untuk tetap tegar, sabar, dan istiqamah dalam mengemban amanah.
Arsip Berita
Pengumuman
- 01 Mar 2022
- 10 Mar 2021
- 01 Mar 2022