Haflatul Ikhtitam Angkatan XXVIII “Izfanna Generation”: Dari Ruang Belajar Menuju Ruang Pengabdian

Haflatul Ikhtitam Angkatan XXVIII “Izfanna Generation”: Dari Ruang Belajar Menuju Ruang Pengabdian

Ahad, 22 Dzulqo’dah 1447 H bertepatan dengan 10 Mei 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi keluarga besar Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Dalam balutan suasana khidmat, haru, dan penuh rasa syukur, pesantren menggelar Haflahtul Ikhtitam Angkatan XXVIII bertajuk “Izfanna Generation”. Acara ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang para santri kelas 6 TMI setelah menempuh pendidikan selama enam maupun empat tahun di pesantren.

Haflah Ikhtitam bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan momentum sakral yang menandai lahirnya generasi baru yang siap melanjutkan perjuangan ilmu dan pengabdian di tengah masyarakat. Di balik senyum para santri dan tepuk tangan hadirin, tersimpan ribuan cerita perjuangan, pengorbanan, doa orang tua, serta bimbingan para guru yang telah menempa mereka selama bertahun-tahun.

Kegiatan diawali dengan praacara yang meriah namun tetap sarat nuansa islami. Penampilan Tari Zapin Melayu membuka suasana dengan keanggunan budaya yang berpadu dengan nilai religius, dilanjutkan penampilan grup hadroh Arrahman yang membawakan lantunan sholawat dan lagu religi. Irama rebana yang menggema di aula seolah menjadi simbol bahwa perjalanan ilmu harus selalu diiringi dzikir dan cinta kepada Rasulullah SAW.

Memasuki acara inti, satu per satu calon alumni Angkatan XXVIII dipanggil menuju tempat yudisium. Langkah mereka menuju panggung bukan hanya langkah menuju kelulusan, tetapi juga langkah menuju tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan. Sebab di pesantren, kelulusan bukanlah akhir belajar, melainkan awal pengabdian.

Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan panitia Haflah, M. Rafi'u El Wustqo. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa proses menjadi panitia telah memberikan banyak pelajaran berharga tentang kesabaran dan kedewasaan.

“Panitia Haflah kami jadikan pelajaran, karena setiap teguran dan amarah adalah batu loncatan kami.”

Kalimat tersebut menggambarkan bahwa pendidikan pesantren yang mendidik bukan hanya melalui teori, tetapi juga melalui proses. Teguran dipandang sebagai bentuk kasih sayang, sedangkan kesulitan adalah sarana pembentukan mental dan akhlak seorang santri.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan calon alumni, Musthofa Abyan Annawaf. Dengan suara penuh haru, ia mengenang perjuangan dan doa kedua orang tua yang menjadi kekuatan terbesar para santri.

“Anak adalah aset yang berharga. Berdirinya kami di sini karena doa ibu dan ayah kami di setiap sepertiga malamnya.”

Ungkapan tersebut menyadarkan bahwa keberhasilan seorang anak tidak pernah berdiri sendiri. Di balik keberhasilan santri, ada sujud panjang orang tua di sepertiga malam, ada air mata yang dipanjatkan dalam doa, dan ada harapan besar yang dititipkan kepada anak-anak mereka.

Sementara itu, perwakilan wali santri turut memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta Haflah.

“Kejarlah nama baik bangsa dan negara. Doakan guru-guru kita karena merekalah yang mengajarkan kita.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa seorang santri membawa amanah besar: menjaga nama baik agama, keluarga, bangsa, dan almamater. Dalam tradisi pesantren, menghormati guru merupakan kunci keberkahan ilmu, sebab ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi juga diwariskan melalui adab dan keteladanan.

Suasana semakin mengharukan ketika panitia Haflah membawakan lagu perpisahan. Tangis haru pecah di berbagai sudut aula. Kenangan tentang kebersamaan di asrama, belajar di kelas, bangun malam untuk ibadah, hingga perjuangan menghadapi ujian seakan kembali terulang dalam ingatan para santri.

Puncak acara berlangsung saat pembacaan yudisium yang dipimpin oleh Al-Ustadz Ismail Marzuki. Aula mendadak hening ketika hasil kelulusan diumumkan. Dari total 45 santri, diperoleh hasil sebagai berikut:

  • Mumtaz : 2 santri
  • Jayyid Jiddan : 7 santri
  • Jayyid : 5 santri
  • Maqbul : 24 santri
  • Rosib : 7 santri

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan alumni terbaik Angkatan XXVIII, yaitu Zakia Laelul Falah dengan nilai 9,09 dan Laili Nailul Muna dengan nilai 8,5.

Namun lebih dari sekadar angka, pesantren mengajarkan bahwa keberhasilan sejati terletak pada akhlak, keikhlasan, dan manfaat ilmu bagi sesama. Sebab ilmu tanpa adab akan kehilangan arah, sedangkan ilmu yang disertai akhlak akan menjadi cahaya kehidupan.

Setelah prosesi yudisium selesai, seluruh alumni Angkatan XXVIII melaksanakan pembacaan ikrar alumni sebagai bentuk komitmen menjaga nama baik almamater serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama mondok di Darul Mujahadah. Ikrar tersebut menjadi janji moral bahwa para alumni akan tetap membawa nilai-nilai pesantren di manapun mereka berada.

Nasihat penuh makna kemudian disampaikan oleh pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah, Al-Ustadz Moh. Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I, M.Pd.

“Nikmat yang banyak kalau kita syukuri akan bertambah. Santri harus mempunyai integritas dan mengamalkan ilmu yang didapat dari Darul Mujahadah.”

Nasihat tersebut menegaskan bahwa inti pendidikan pesantren bukan hanya mencetak manusia berilmu, tetapi juga pribadi yang berintegritas, rendah hati, dan mampu menjaga amanah ilmu di tengah kehidupan masyarakat.

Menjelang akhir acara, para santri mempersembahkan paduan suara yang semakin menambah suasana haru dan kebanggaan. Kegiatan juga diisi dengan penyerahan kenang-kenangan berupa uang wakaf sebagai simbol cinta dan pengabdian alumni kepada pondok pesantren tercinta.

Rangkaian Haflahtul Ikhtitam Angkatan XXVIII “Izfanna Generation” akhirnya ditutup dengan doa yang dipimpin oleh H. Hanifuddin Abdullah, M.Hum. Di penghujung acara, terselip harapan besar agar para alumni mampu menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu membawa nama baik agama, bangsa, dan almamater.

Karena sejatinya, seorang santri tidak pernah benar-benar meninggalkan pesantren. Ia hanya berpindah dari ruang belajar menuju ruang pengabdian.