Pelatihan Mudarris Berbasis Guided Reflection Terintegrasi Nilai Kepesantrenan Digelar di Pondok Pesantren Darul Mujahadah

Pelatihan Mudarris Berbasis Guided Reflection Terintegrasi Nilai Kepesantrenan Digelar di Pondok Pesantren Darul Mujahadah

Upaya meningkatkan kompetensi profesional guru pesantren modern terus dilakukan melalui penguatan refleksi, inovasi pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi. Salah satunya melalui Pelatihan Mudarria Berbasis Guided Reflection Terintegrasi Nilai Kepesantrenan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Mujahadah, Margasari, Kabupaten Tegal, Rabu, 16 September 2026.

‎Pelatihan ini diikuti oleh guru-guru pesantren modern di Kabupaten Tegal. Kegiatan dimulai pukul 13.00- 15.30 WIB. Adapun peserta pelatihan pada kegiatan ini adalah dari Pondok Pesantren Alumni Gontor non Ormas yaitu Pondok Pesantren Darul Mujahadah, Pondok Pesantren Darul Ulil Albab, Pondok Pesantren Darul Furqon dan Pondok Pesantren  Darul Faradis. 

‎Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan. Rangkaian pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Oh Pondokku dan sambutan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Daarul Mujahadah, Al-Ustad Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd. sekaligus pembukaan pelatihan.

‎Dalam sambutannya, beliau yang akrab disapa Biya Hadi, memperkenalkan tentang Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Dalam hal ini, Pondok Pesantren Darul Mujahadah masih satu nasab dengan Pondok Pesantren Darul Ulil Albab, Pondok Pesantren Darul Furqon dan Pondok Pesantren  Darul Faradis. 

‎"Pondok Pesantren Darul Mujahadah mengikuti kurikulum berbasis dengan Gontor, namun karna dulu Abah, KH. Asrori Muhtarom pendiri Pondok Pesantren Darul Mujahadah dan pengasuh pertama, maka Darul Mujahadah menggunakan Dwi kurikulum yaitu kurikulum Gontor dan Kemenag" Ucap beliau menambahkan.

‎Beliau juga menegaskan bahwa Pondok Pesantren Darul Mujahadah Adalah pondok tertua alumni Gontor, kemudian alumni tertua selanjutnya adalah Pondok Pesantren Darul Ulil Albab. 

‎Suatu kehormatan untuk Pondok Pesantren Darul Mujahadah, bisa menjadi tuan rumah dalam kegiatan siang hari ini.

‎Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan acara inti, yaitu penyampaian materi seminar. Dalam penyampaian materi pertama yang dibuka oleh pembicara Bapak Dr. Budi Utomo, MA. tentang :

‎Menguatkan Refleksi dan Nilai Panca Jiwa

‎Beliau berpendapat bahwa Pelatihan Mudarris tidak sekadar memberikan materi kepada guru, tetapi mendorong peserta untuk belajar dari pengalaman profesionalnya sendiri. Pendekatan guided reflection diarahkan agar guru mampu menghubungkan pengalaman pembelajaran dengan nilai-nilai kepesantrenan dan kemudian menerapkannya dalam praktik nyata. Tujuan utama program adalah meningkatkan kompetensi profesional guru melalui refleksi terbimbing yang terintegrasi dengan nilai kepesantrenan sehingga menghasilkan perbaikan pembelajaran yang nyata dan berkelanjutan.

‎Nilai kepesantrenan yang menjadi ruh dalam rangkaian pelatihan antara lain Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwwah Islamiyyah, dan Kebebasan. Modul menempatkan Panca Jiwa bukan sekadar sebagai pengetahuan konseptual, melainkan sebagai nilai yang perlu diwujudkan dalam perilaku dan aktivitas nyata dalam kehidupan pendidikan pesantren.

‎Materi selanjutnya disampaikan oleh Bapak Bunyamin, S.Pd., M.Hum. tentang:

‎Pembelajaran Inovatif Tetap Berakar pada Tradisi Pesantren

‎Salah satu materi utama dalam kegiatan adalah Pembelajaran Inovatif Terintegrasi Nilai Kepesantrenan. beliau menegaskan bahwa pembelajaran inovatif tidak identik dengan penggunaan teknologi. Inovasi terletak pada bagaimana guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

‎Dalam konteks pesantren, berbagai pendekatan dapat digunakan, antara lain Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Inquiry Learning, Discovery Learning, Cooperative Learning, Game-Based Learning, maupun Talaqqi Plus. Pemilihan model disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik santri, waktu, lingkungan, sumber belajar, serta nilai yang hendak dikembangkan.

‎Prinsip yang ditekankan adalah bahwa tradisi menjadi akar, inovasi menjadi penguat, dan Panca Jiwa menjadi ruh pembelajaran. Karena itu, inovasi pembelajaran tidak diarahkan untuk meninggalkan tradisi pendidikan pesantren, tetapi memperkaya pengalaman belajar santri dengan tetap menjaga nilai, adab, budaya, dan ruh kepesantrenan.

‎Beliau juga menambahkan bahwa : Guru Didorong Memanfaatkan TIK dan AI secara Bijak

‎Selain pembelajaran inovatif, peserta juga mendapatkan praktik pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran.

‎Pada Modul 3 menempatkan TIK dan AI sebagai alat bantu profesional bagi guru. AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari inspirasi, mengembangkan ide aktivitas, menyusun bahan ajar, membuat variasi pertanyaan, mengembangkan media, serta membantu merefleksikan rancangan pembelajaran. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan guru dan setiap keluaran AI perlu diperiksa serta disesuaikan dengan tujuan dan konteks pembelajaran.

‎Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan dengan berbagai aplikasi yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran, seperti Canva, Quizizz/Wayground, Wordwall, Google Forms, Gemini, dan ChatGPT. Pemilihan teknologi tidak didasarkan pada popularitas aplikasi, tetapi disesuaikan dengan tujuan, materi, strategi pembelajaran, serta kebutuhan peserta didik.

‎Author : Tim Darul Mujahadah Media Center