Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti (Renungan dari Petuah K.H. Imam Zarkasyi)
- Kalam
- 17 Nov 2025
- 469

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah
Kalimat pendek yang disampaikan K.H. Imam Zarkasyi pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor ini sering terdengar dalam berbagai kesempatan: "Hidup sekali, hiduplah yang berarti." Ungkapan sederhana ini pada hakikatnya adalah pesan filosofis, moral, sekaligus spiritual yang sangat dalam. Ia tidak hanya mengingatkan manusia tentang keterbatasan umur, tetapi juga menuntun arah bagaimana seharusnya kehidupan yang singkat ini dijalani.
Dalam perspektif keislaman, hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa yang datang dan pergi. Hidup adalah amanah. Setiap manusia diberi kesempatan satu kali untuk menjalaninya, dan kesempatan itu tidak dapat diulang. Kita tidak diberi opsi untuk meminta waktu tambahan, tidak bisa mengulang masa muda, dan tidak mampu menunda datangnya ajal. Karena itu, pesan “hiduplah yang berarti” menjadi sangat relevan. Kehidupan hanya satu kali, maka tidak selayaknya dihabiskan dengan hal-hal yang tidak memiliki nilai dan arti.
Hidup yang berarti bukanlah hidup yang dihiasi kekayaan berlimpah atau popularitas yang tinggi. Arti hidup lebih dekat dengan nilai, bukan dengan ukuran materi. Seorang pedagang sederhana bisa memiliki hidup yang lebih berarti daripada seorang pejabat tinggi jika ia menjalani hidup dengan kejujuran, integritas, dan kontribusi nyata. Begitu pula seorang guru desa yang mengajar dengan tulus bisa jauh lebih berarti dibanding banyak orang yang sibuk mengejar kepentingan diri sendiri.
K.H. Imam Zarkasyi mendidik ribuan santri untuk menjadi manusia yang berguna bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Karena itu, makna “hidup yang berarti” dalam tradisi Gontor selalu diarahkan pada pengabdian. Hidup yang berarti bukanlah hidup yang hanya dipakai untuk memikirkan diri sendiri, tetapi hidup yang memberi manfaat bagi orang lain. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dengan demikian, hidup yang berarti identik dengan hidup yang memberikan nilai tambah bagi sekitar. Orang yang hidupnya bermanfaat akan dikenang lama setelah ia tiada, sementara orang yang hidup hanya untuk dirinya akan hilang begitu saja dari ingatan.
Hidup yang berarti juga berkaitan erat dengan keikhlasan. Banyak orang berbuat baik, tetapi tidak semua melakukannya dengan niat yang lurus. Berbuat baik dengan tujuan dipuji atau dihormati akan kehilangan makna sejatinya. K.H. Imam Zarkasyi sering menekankan pentingnya keikhlasan sebagai pondasi amal. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas jauh lebih bernilai dibanding amal besar yang penuh riya dan kepentingan pribadi.
Arti hidup juga terletak pada cara seseorang mengelola waktu. Waktu adalah modal utama yang tidak pernah bisa dikembalikan. Setiap detik yang hilang tidak bisa ditebus. Karena itu, hidup yang berarti selalu beriringan dengan kesadaran bahwa waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Orang yang menyia-nyiakan waktu pada hakikatnya sedang menyia-nyiakan hidup. Sementara orang yang memanfaatkan waktunya untuk belajar, bekerja, beramal, membangun relasi kebaikan, serta memperbaiki diri, itulah orang yang mengisi hidupnya dengan makna.
Salah satu hal yang membuat hidup seseorang berarti adalah kemampuannya untuk menjadi teladan moral. Dunia saat ini penuh dengan kebisingan, persaingan, dan hiruk pikuk kepentingan. Di tengah keadaan seperti itu, kehadiran seseorang yang jujur, amanah, dan teguh memegang prinsip adalah anugerah luar biasa. Bahkan jika pengaruhnya kecil, nilai keteladanannya tetap abadi. Seorang ayah yang menjadi contoh kebaikan bagi anak-anaknya, seorang ibu yang mendidik dengan kasih sayang, seorang guru yang menanamkan nilai-nilai mulia, semuanya sedang menjalani hidup yang berarti.
Hidup yang berarti juga bukan hidup yang bebas dari masalah. Banyak orang ingin hidup yang mudah, mulus, tanpa hambatan. Namun dalam kenyataannya, justru perjuangan, kesabaran, dan keteguhan menghadapi cobaan itulah yang memberi nilai lebih pada hidup seseorang. Hidup yang tidak berarti adalah hidup yang hanya mengejar kenyamanan tanpa perjuangan. Sedangkan hidup yang berarti adalah hidup yang diisi dengan usaha memperbaiki, mendidik, memperjuangkan kebenaran, dan melibatkan diri dalam proses panjang menuju kebaikan.
Pada akhirnya, hidup yang berarti adalah hidup yang dekat dengan Allah. Kedekatan kepada Allah memberi arah, memberi ketenangan, dan memberi kejelasan tentang tujuan hidup. Orang yang hidup hanya mengikuti hawa nafsunya akan mudah kehilangan makna. Tapi orang yang sadar bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan Allah akan menata kehidupannya dengan lebih hati-hati. Ia menjaga ibadahnya, memperindah akhlaknya, dan menghindari hal-hal yang merusak dirinya.
Petuah K.H. Imam Zarkasyi ini pada dasarnya adalah ajakan untuk menata hidup dari sekarang. Jangan menunggu tua untuk bermanfaat. Jangan menunggu sukses untuk berbuat baik. Jangan menunggu banyak harta untuk membantu orang lain. Hidup terlalu berharga untuk dibiarkan tanpa tujuan. Maka ketika hidup hanya satu kali, pastikan ia terisi dengan hal yang bernilai seperti ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, akhlak yang mulia, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sebab yang abadi bukanlah umur yang panjang, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkan. Dan mereka yang hidupnya berarti, dialah yang benar-benar hidup, bahkan setelah tubuhnya kembali ke tanah.
Wallohu A’lam Bisshowab…