Ketika Segalanya Murah, Adab Tetap Berharga
- Kalam
- 13 Nov 2025
- 542

Oleh: Mohammad Eko Hadi Kuncoro, S.Fil.I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mujahadah
ﻛُﻞُّ ﺷَﻴْﺊٍ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺜُﺮَ ﺭَﺧُﺺَ ﺇِﻻَّ ﺍﻷَﺩَﺏَ
“Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti.”
Beberapa tahun terakhir kita dimanjakan dengan kemunculan sepeda listrik. Di awal kemunculannya, sepeda listrik menjadi idaman banyak orang. Dimana-mana jalanan ramai oleh para pengguna sepeda listrik. Dari orang dewasa yang berangkat kerja, ibu rumah tangga yang berbelanja, hingga anak-anak kecil yang dengan riangnya keliling menggunakan sepeda lsitrik. Walaupun seringkali kita merasa resah ketika “bocil-bocil” melaju kencang tanpa memperhatikan keselamatan, seolah jalanan miliki mereka sendiri tidak ada pengguna jalan yang lain.
Pada awal kemunculannya, harga sepeda listrik sangat mahal. Hanya Sebagian orang yang mampu membelinya. Tapi seiring waktu, ketika banyak produsen membuat versi lebih murah dan permintaan meningkat, harganya pun turun drastis. Sekarang sepeda lsitrik dengan mudah bisa kita temukan denga harga yang murah. Di pinggir jalan, di pasar online, bahkan di desa kecil saja sudah ada toko yang menjual sepeda listrik dengan harga terjangkau.
Begitulah kehidupan ini berjalan. Segala sesuatu ketika terlalu banyak akan kehilangan nilanya. Emas menjadi berharga karena langka. Air menjaid mahal di tempat yang gersang. Jabatan menjadi rebutan karena tidak semua orang bisa memilikinya. Namun diantara segala hal yang tunduk pada hukum kelangkaan itu, ada satu hal yang tidak pernah hilang nilainya meski dimiliki oleh banyak orang yaitu adab.
Budi pekerti atau adab adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diwariskan secara materi, dan tidak bisa dipertontonkan sekadar untuk mendapat pujian. Ia tumbuh dari keindahan jiwa, dari kebersihan hati, dan dari kesadaran diri bahwa setiap Tindakan manusia seharusnya mencerminkan nilai kemanusiaannya.
Adab adalah mahkota dari ilmu dan perhiasan dari iman. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi alat untuk kesombongan. Tanpa adab, harta bisa menjadi sumber kehancuran. Tanpa adab, jabatan bisa menjadi pintu kezaliman. Adab menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, membuat yang tinggi tidak menjadi sombong, dan yang rendah tidak merasa hina.
Di pesantren, para santri memahami bahwa adab adalah fondasi utama dalam menuntut ilmu. Seorang santri tidak hanya diajarkan bagaimana membaca kitab kuning atau memahami kaidah bahasa Arab, tetapi juga bagaimana bersikap terhadap guru, bagaimana berbicara dengan sopan, menjaga pandangan, dan menghargai teman. Adab bukan hanya pelajaran teori, tapi latihan jiwa yang dilakukan setiap hari.
Bahkan di antara santri dan kiai, ada hubungan spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan logika pasar. Santri belajar bukan hanya dari ucapan, tetapi dari keteladanan. Ia belajar bagaimana seorang guru menahan amarah, bagaimana seorang kiai bersabar menghadapi perbedaan, dan bagaimana seorang alim tetap rendah hati meski ilmunya luas. Inilah kemewahan sejati dari adab, ia tidak bisa diukur dengan angka atau ditakar dengan gelar.
Sayangnya, di tengah derasnya arus modernitas, adab mulai langka. Dunia kini lebih menghargai penampilan dibandingkan perilaku, lebih memuja kepintaran dibandingkan ketulusan. Media sosial menjadikan banyak orang berlomba untuk tampak benar, bukan benar-benar berbuat baik. Orang lebih senang dipuji sopan di layar, meski kasar dalam lisan. Padahal, ukuran sejati bukan pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang tertanam di dalam hati.
Ketika dunia semakin bising oleh prestasi dan pencapaian, adab hadir sebagai ketenangan. Ia mengajarkan kita untuk menghargai waktu, menghormati orang lain, dan menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan martabat. Orang yang beradab tahu kapan berbicara dan kapan diam. Ia tidak menuntut penghormatan, sebab perilakunya sendiri membuat orang segan.
Ungkapan mahfudzot di atas, “Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali adab,” bukan sekadar kalimat indah. Ia adalah nasihat hidup yang mendalam. Semakin banyak seseorang memiliki adab, semakin tinggi nilainya. Bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Dan ketakwaan itu tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari adab terhadap Allah, sesame dan alam semesta.
Maka, ketika harga sepeda listrik menjadi murah karena banyaknya produksi, biarlah itu menjadi cermin bagi kita. Segala yang melimpah akan kehilangan nilai, kecuali budi pekerti. Karena adab tidak akan pernah turun harganya, bagaimanapun kondisinya. Ia tetap menjadi kemewahan yang tak ternilai, perhiasan yang tidak pudar, dan bekal yang tak lekang oleh waktu.
Adab adalah cermin keindahan jiwa, tanda kematangan berpikir, dan bukti kesempurnaan iman. Barang siapa memilikinya, ia akan dihormati bahkan tanpa diminta. Maka jagalah adab, karena di dunia yang serba cepat ini, adab adalah satu-satunya hal yang tidak bisa digantikan oleh tekhnologi, kekayaan, atau kepintaran. Sebab benar adanya, segala sesuatu jika banyak menjadi murah kecuali adab.
Wallohu A’lam Bisshowab…