Tetap Beribadah Meskipun Belum Bisa Ikhlas

Tetap Beribadah Meskipun Belum Bisa Ikhlas

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptkan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku(Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56)

Sebagai makhluk yang diciptakan dengan tugas menyembah, maka ibadah, (sebagai manivestasi dari penyembahan kepada Allah) merupakan suatu yang mutlak harus dilalukan oleh semua manusia dan juga jin. Amal ibadah yang dilakukan oleh manusia sebagai wujud pelaksanaan tugasnya sebagai makhluk juga tidak hilang begitu saja, tapi Allah akan selalu memperhitungkan balasannya. Semakin banyak amal ibadah yang dikerjakan, maka semakin besar dan banyak pula balasan atau pahala yang didapatkan. Karena secara umum besarnya balasan itu sebanding dengan tingkat kepayahannya. Namun demikian, ternyata masih ada syarat lain yang harus dipenuhi agar ibadah yang kita lakukan mendapatkan perhitungan dan balasan yang setimpal dari Allah, yaitu amal ibadah tersebut harus didasari rasa ikhlas.

Ikhlas merupakan ruh dari sebuah amal. Tanpa adanya ikhlas, sebuah amal tak lagi berarti. Hal itu bisa diserupakan dengan sebuah tubuh yang tak lagi barnyawa. Bagaimanapun bagus dan sempurnanya tubuh seseorang, jika tidak lagi ber-ruh maka tidak ada lagi manfaat yang bisa diharapkan darinya, juga tidak ada lagi orang yang mau berdekatan dengannya.

Berkenaan dengan sangat urgennya ikhlas dalam beramal, mari kita simak bersama beberapa ayat berikut ini. Dalam Al-qur’an Surat Al-Basyyinah ayat 5, Allah SWT menyebutkan:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan) agama yang lurus” (Q.S Al-Bayyinah: 5)

Dalam surat yang lain Allah SWT juga menerangkan bahwa salah satu yang akan menggugurkan balasan (pahala) suatu amal adalah karena tidak adanya rasa ikhlas, seperti karena riya,  dimana Dia berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوا  وَاللهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكَافِرِيْنَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).Mereka tidak menguasai sesuatu pun dariapa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Q.S Al-Baqoroh: 264)

Jelaslah sudah bahwa apa pun amal ibadah yang kita kerjakan, baik yang bersifat mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh, baik vertikal maupun horizontal, semuanya harus didasari rasa ikhlas, murni hanya karena mengharap ridho dari Allah SWT. Tanpa adanya keikhlasan, semua itu hanyalah sesuatu yang sia-sia.

Apabila kita hitung secara matematik, maka seseorang yang beramal sholih dengan 100 % ikhlas, pahala yang diperolahnya 100 %. Jika ikhlasnya 50%, maka pahalanya juga 50 %; jika ikhlasnya hanya 5 %, maka pahalanya juga hanya 5 %. Dan jika tanpa didasari rasa ikhlas sedikitpun, maka tidak ada sedikitpun pahala yang diperolehnya. Demikianlah kira-kira perhitungan manusia.

Faktanya, tidak ada alat yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat keikhlasan seseorang, tidak ada pula orang yang mampu menilai seberapa ikhlas seseorang dalam ibadahnya. Hal itu karena ikhlas merupakan sesuatu yang abstrak, hanya diri sendiri  dan Allah SWT lah yang mengetahuinya.

Sebagai manusia biasa yang lemah imannya dan tak luput dari dosa, tentu sangat sulit untuk bisa memurnikan niat dalam beribadah, sangat berat untuk melakukan amal dengan tingkat keikhlasan yang tinggi, apalagi sampai derajat keikhlasan100%. Namun yang sangat perlu kita perhatikan adalah, meskipun hanya dengan derajat keikhlasan yang masih sangat rendah, bukan berarti lebih baik kita tinggalkan amal ibadah. Sebab, meskipun sedikit, pasti masih ada rasa ikhlas yang tesisa dalam hati kita. Yang berarti masih ada juga peluang untuk meraih pahala walaupun sedikit. Atau jika seandainya belum ada rasa ikhlas sekalipun, ibadah tidak boleh berhenti, karena bagaimanapun ibadah tetaplah kewajiban yang harus dilaksanakan.

Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan sebagai berikut:

1.         Jika yang kita kerjakan adalah ibadah yang hukunmnya wajib, sholat misalnya. Maka walaupun tidak didasari rasa ikhlas, paling tidak kita telah menggugurkan kewajiban, dan tidak lagi menanggung dosa.

2.         Jika yang kita kerjakan adalah ibadah sunnah, shodaqoh misalnya. Ketika kita memberikan shodaqoh berupa makanan kepada orang yang kelaparan, walaupun tidak didasari rasa ikhlas, paling tidak kita telah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi si-penerimanya, dan do’a dari si-penerima itulah yang akan memberikan manfaat bagi kita.

 

Contoh yang lain adalah menyumbang pembangunan masjid. Jika tidak didasari rasa ikhlas, maka tidak ada pahala atas sumbangan tersebut, tapi paling tidak kita telah memberikan sumbangsih bagi pembangunan masjid, yang berarti memberikan sumbangsih bagi terus tegaknya agama Islam.

Berdasarkan uraian di atas, marilah kita terus berusaha untuk memurnikan niat dalam beramal sholih, sehingga bisa tergolong orang-orang yang ikhlas (mukhlisin). Apabila belum bisa ikhlas, maka marilah kita terus melakukan amal kebaikan walaupun dengan derajat keikhlasan yang belum sempurna. Karena paling tidak kita akan mendapatkan sebagian dari pahala atas kebajikan tersebut.

Jika memang belum bisa ikhlas sama sekali, maka marilah kita terus melakukan amal ibadah, karena apapun bentuk kebaikan yang kita lakukan pasti akan mendatangkan manfaat, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Ingatlah firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97 sebagai berikut:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرِ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami beri kehidupan yang menyenangkan dan balasan kepada mereka dengan balasan (pahala) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.

 

Wallahu a’lam


Bagikan Post


Komentar

    Belum Ada Komentar


Tambahkan Komentar

Profil
Kategori
Event Terdekat

Testimonial

Pengalaman mengenyam pendidikan di Ponpes DM tdk akan pernah saya lupakan seumur hidup. Pendidikan ...

- Ceria Falah -

Bagus sekali, gurunya baik-baik, pengajarnya berkompeten. Terima kasih MA Darul Mujahadah....

- Sunarto -

Bersyukur telah mengenal Darul Mujahadah. Semoga bisa turut mengabdi untuk kemajuan Islam dan Indone...

- Nabhan Zein -

Facebook

Twitter