Hukum Shalat Jum’at Bagi Musafir

Hukum Shalat Jum’at Bagi Musafir

Darul Mujahadah - Kita tentu pernah bepergian ke suatu tempat. Pernah juga mungkin saat melakukan perjalanan bertepatan dengan hari Jum’at. Apakah kita wajib melakukan sholat Jum’at atau cukup melaksanakan sholat Dzuhur? Berikut beberapa pendapat yang dapat kita ketahui tentang hokum sholat Jum’at bagi musafir atau orang yang sedang bepergian.

Setiap Muslim lelaki yang sudah baligh punya kewajiban untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at. Shalat dua rakaat dengan khutbah ini merupakan sarana seorang Muslim lelaki untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Khatib yang menyampaikan khutbah kerap mengajak kita untuk terus bertakwa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Keutamaan shalat Jum’at tertera jelas di dalam Al-Qur’an. Allah SWT menjelaskan, "Hai orang-orang yang beriman, apa bila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, bersegeralah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS al- Jumu’ah ayat 9).

Meski demikian, muncul pertanyaan bagaimana kewajiban shalat Jum’at orang yang sedang dalam perjalanan ke luar negeri atau luar kota dalam waktu tertentu. Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menukil dalam satu hadis riwayat Imam Bukhari yang berasal dari Ibnu Abbas. "Sesungguhnya shalat Jum’at pertama yang dilakukan sesudah shalat Jum’at di masjid Rasulullah SAW ialah shalat Jum’at di masjid milik Kabilah Abdul Qais di Desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain."

Syekh Utsaimin menjelaskan, maksud dari hadis ini ialah tidak ada shalat Jum’at di gurun pasir. Orang-orang badui yang tinggal di kemah dan selain mereka, tidak menyelenggarakan shalat Jum’at. Karena, mereka tidak tinggal di kampung atau di kota. Menurut Syekh Utsaimin, orang-orang badui zaman dahulu tinggal di sekitar Madinah pada masa Nabi SAW tidak menyelenggarakan shalat Jum’at. Nabi SAW pun tidak memerintahkan mereka untuk shalat Jum’at. Terutama lagi, bagi seorang musafir yang tengah kesulitan dalam perjalanannya. Memang ada sebagian ulama yang mengatakan, "Shalat Jum’at disyariatkan ketika Shafar."

Akan tetapi, Syekh Utsaimin menegaskan, Nabi SAW saat menyelenggarakan haji wada' yang bertepatan dengan hari Jum’at tidak melakukan shalat Jum’at. Ketika itu, Rasulullah SAW melaksanakan wukuf di Arafah bersama sebagian besar kaum Muslimin. Dengan demikian, Syekh Utsaimin mengungkapkan, sunah Nabi SAW memperjelas jika tidak ada shalat Jum’at kecuali di kampung dan di kota.

Ibnu Rusyd, dalam kitab Bidayatul Mujtahid menjelaskan, ada ulama lain yang berpendapat wajib bagi orang yang hanya menempuh perjalanan sejauh tiga mil. Ada juga yang berpendapat wajib bagi orang untuk melaksanakan shalat Jum’at ketika mendengar seruan azan Jum’at dari jarak tiga mil. Dua pendapat ini dikutip dari Imam Malik. Masalah ini dikemukakan dalam pembahasan tentang syarat-syarat wajib shalat.

Imam Yahya ibn Abil Khair ibn Salim al-'Umraniy di dalam Al-Bayan Fi Madzhabil Imam Asy-Syafi'i menjelaskan, apabila musafir bermaksud tinggal seba gai mukimin di suatu perkampungan selama empat hari selain hari ketika datang dan pergi, beberapa keringanan ibadah dalam perjalanan. Ini pendapat 'Utsman ibn 'Affan, Sa'id ibn al-Musay yab, Malik dan Abu Tsaur.

Sementara itu, Imam Ali ibn Muhammad Al-Baghdadi (Al- Mawardi) di dalam Al-Hawi al- Kabir menjelaskan, ada musafir yang tinggal sementara di satu daerah dalam jangka waktu tertentu untuk berdagang atau menuntut ilmu. Musafir itu masih terkena wajib melaksanakan shalat Jum’at, tetapi tidak sah menyelenggarakan shalat Jum’at.

Meski demikian, Al Mawardi menjelaskan, terjadi perbedaan pendapat apakah para mukimin tersebut bisa menyelenggarakan sen diri shalat Jum’at tersebut atau tidak. Abu Ali ibn Abu Hurairah me ngatakan, sah bagi mereka menyelenggarakan sendiri shalat Jum’at karena orang yang wajib shalat Jum’at, tentu mereka sah menyelenggarakannya sendiri, sama dengan mustauthin (orang yang tinggal menetap sepanjang waktu).

Sementara itu, Abu Ishaq al- Marwaziy berpendapat, mereka wajib melaksanakan shalat Jum’at, tetapi tidak sah menyelenggarakannya sendiri. Hal ini kare na ketika Nabi SAW melaksana kan ibadah haji wada', tinggal untuk wukuf pada hari Arafah bertepatan hari Jum’at, beliau ti dak menyelenggarakan shalat Jum’at, dan tidak menyuruh warga Makkah untuk menyelenggarakannya.

Dalam Fatwa bernomor 20 tahun 2017, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengategorikan beberapa golongan yang hendak menempuh perjalanan. Pertama ada lah mustauthin. Dia adalah orang yang tinggal menetap dengan maksud untuk sepanjang waktu di suatu daerah. Mukimin adalah orang yang tinggal di satu daerah dengan maksud untuk waktu tertentu. Sementara, musafir merupakan orang yang sedang dalam perjalanan bukan untuk tujuan maksiat dan menjadi sebab ada nya keringanan dalam beberapa kewajiban tertentu.

Menurut MUI, musafir memiliki keringangan untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at, tetapi berkewajiban untuk melaksana kan shalat Zhuhur. Jika musafir ikut shalat Jum’at bersama dengan ahlul Jum’at, shalatnya adalah sah. MUI berpendapat, penyelenggaraan shalat Jum’at yang hanya diikuti oleh musafir tidak sah karena mereka tidak terkena kewajiban.

MUI pun memberi catatan jika musafir yang telah bermaksud untuk menyelesaikan perjalanannya dengan niat sebagai mukimin, wajib melaksanakan shalat Jum’at dan tidak ada rukhshah safar (keringanan karena perjalanan) untuk meninggalkannya.

Mukimin wajib melaksanakan shalat Jum’at di daerah tempat ia tinggal atau di daerah sekitar yang terdengar azan Jum’at. Apabila di daerah tempat tinggal mukimin dan sekitarnya tidak ada penyelenggaraan shalat Jum’at, sedangkan jumlah muk min terpenuhi syarat jumlah minimal pendirian shalat Jum’at maka mereka wajib dan sah menyelenggarakan sendiri shalat Jum’at.

Pendapat ini merupakan suatu pendapat di antara dua pendapat di kalangan fuqaha'. Sedangkan, pendapat lainnya menyatakan, tidak wajib dan tidak sah menyelenggarakan shalat Jum’at sendiri, tetapi wajib melaksanakan shalat Zhuhur yang dipandang utama dengan berjamaah. Wallahualam.

 

Dikutip dari Khazanah Republika


Bagikan Post


Komentar

    Belum Ada Komentar


Tambahkan Komentar

Profil
Kategori
Event Terdekat

Tidak Ada Event Terdekat

Testimonial

Pengalaman mengenyam pendidikan di Ponpes DM tdk akan pernah saya lupakan seumur hidup. Pendidikan ...

- Ceria Falah -

Bagus sekali, gurunya baik-baik, pengajarnya berkompeten. Terima kasih MA Darul Mujahadah....

- Sunarto -

Bersyukur telah mengenal Darul Mujahadah. Semoga bisa turut mengabdi untuk kemajuan Islam dan Indone...

- Nabhan Zein -

Facebook

Twitter