Buku Sebagai Penghibur Pikiran

Buku Sebagai Penghibur Pikiran

Darul Mujahadah – Pernah dengar kata mutiara ini? “Sebaik-baik teman duduk dalam setiap waktu adalah buku”. Tentu pelajaran ini hampir seluruhnya diajarkan di bangku-bangku sekolah. Terutama di pesantren istilah tersebut tidaklah asing dan bahkan sudah hafal dengan istilah “Khoiru jaliisin fiz zamaani kitaabun”. Perkataan itu diajarkan dalam pelajarn Mahfudzot. 

Kenapa teman duduk yang terbaik adalah buku? Ternyata dengan membaca buku pikiran kita bisa terhibur. Hal ini pernah diungkapan oleh seorang ilmuwan bernama Ibnu Durayd bahwa buku merupakan penghibur bagi pikiran.

Suatu hari, ia menghadiri sebuah pertemuan. Sejumlah orang dalam pertemuan itu menyampaikan beberapa tempat yang dianggap sebagai tempat indah dan menyenangkan. Di tengah lontaran pernyataan, Durayd menyampaikan pendapatnya. Ia menyatakan, tempat-tempat itu hanyalah hiburan untuk mata. Namun, pikiran yang ingin dihibur dapat berpaling pada buku. Lalu, ia menyebutkan tiga buku favoritnya yang layak sebagai penghibur pikiran. 

Buku-buku itu, kata Durayd, adalah Uyun Al Akhbar atau Kisah Pilihan karya Ibnu Qutaybah, Kitab Al Zahra atau Buku tentang Bunga karya Muhammad ibn Dawud, dan Qalaq Al Musytaq atau Kegelisahan karena Rindu yang ditulis oleh Ahmad Ibnu Abi Thahir. 

Bahkan, ada sebuah kisah yang dikutip George A Makdisi dari seorang ilmuwan bernama Al Tawhidi terkait masalah buku ini. Ini soal langkah yang dilakukan Al Hasan Ibnu Ustman Al Qatari. Waktu itu, Al Qatari memutuskan menguburkan buku-buku yang dimilikinya sebab ia ingin menjalani kehidupan sufi.

Lalu, Al Qatari bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Nabi Muhammad SAW di sebuah masjid sedang membagi-bagikan batang pena yang menebarkan bau harum. Namun, ia tak diberi batang pena itu. Ia pun bertanya kepada Nabi SAW, mengapa ia tak mendapatkan bagian.

Nabi SAW menjawab, bagaimana ia akan memberikan batang pena tersebut kepada Al Qatari yang telah menguburkan ilmu-ilmu yang telah diwariskan Nabi SAW. Bahkan, seorang perdana menteri pun merasakan kebahagiaan saat menerima hadiah sebuah buku.

Saat turun dari kapal yang mengantarkan cendekiawan Jahiz dari Bashrah ke Baghdad untuk mengunjungi Perdana Menteri Ibnu Al Jayyat, ia mendengar seseorang berteriak nyaring mengumumkan adanya pelelangan buku karya seorang filsuf Al Farra.

Sayang, ketika tiba di tempat pelelangan, tak ada lagi salinan buku yang dianggap berharga dan pantas diberikan kepada perdana menteri yang juga seorang sastrawan itu. Kemudian, pelelang mengambil sebuah buku yang disimpannya, yaitu karya ahli bahasa Sibawayh yang berjudul Al Kitab. Sang perdana menteri pun bahagia.

Dari kisah tersebut menggambarkan betapa berharganya sebuah buku. Semoga kita sebagai generasi zaman now bisa mengambil pelajaran dan mencontoh para ilmuwan dan ulama yang selama hidupnya bergelut dengan buku dan ilmu. Sehingga selain kaya akan ilmu pengetahuan juga mereka banyak menelurkan karya-karya yang luar biasa dan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. (Nz)

 

Sumber: Khazanah Republika (dengan beberapa penambahan)


Bagikan Post


Komentar

    Belum Ada Komentar


Tambahkan Komentar

Profil
Kategori
Event Terdekat

Tidak Ada Event Terdekat

Testimonial

Pengalaman mengenyam pendidikan di Ponpes DM tdk akan pernah saya lupakan seumur hidup. Pendidikan ...

- Ceria Falah -

Bagus sekali, gurunya baik-baik, pengajarnya berkompeten. Terima kasih MA Darul Mujahadah....

- Sunarto -

Bersyukur telah mengenal Darul Mujahadah. Semoga bisa turut mengabdi untuk kemajuan Islam dan Indone...

- Nabhan Zein -

Facebook

Twitter